Tulisan ini adalah hasil Penelitian yang dilakukan oleh Hidayatullah pada tahun 2007.
Sejarah Pesantren dan Madrasah Al-Djauharotunnaqiyyah Cibeber
1. Awal Berdirinya Pesantren dan Madrasah Al-Djauharotunnaqiyyah
Pada kira-kira abad ke 18 Masehi telah datang tiga orang ulama yang berasal dari Demak ( Jawa Tengah ) ke Cibeber, di antara ketiganya ada yang menjadi pimpinan dan dikatakan ‘alim yaitu bernama K.H.Abu Shaleh, kuburannya di Gunung Santri kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang. Yang seorang lagi ada yang mengatakan beliau meninggal di Gunung Gede, Desa Sumuranja, Kecamatan Bojonegara. Dan seorang lagi yang bernama K.H. Burhan ( th.1779 – 1813 M) menetap di Cibeber, berda’wah atau mengajarkan pelajaran Agama Islam sampai membuat suatu tempat yang lebih dikenal dengan sebutan Pesantren. Hal ini berlangsung kurang lebih sekitar tahun 1779 – 1813 M.[1]
Dari hasil da’wah dan didikan K.H. Burhan tersebut, lahirlah empat pelajar pilihan sebagai generasi penerus, yaitu K.H.Madhan (putra K.H.Burhan), K.H.Sachal, KH. Suyuthi, dan K.H.Yahya. Mereka inilah yang melanjutkan da’wah di Cibeber dan sekitarnya yang pada waktu itu masih dikenal dengan nama lembaga pendidikan yang disebut pesantren. Di antara keempatnya yang banyak pengaruhnya dan mempunyai keturunan hanyalah K.H.Madhan ( th.1813 – 1846 M )[2].
Setelah K.H.Madhan wafat, dilanjutkan dengan putranya yaitu K.H.Afifuddin (th. 1846 – 1860 M ) untuk melanjutkan cita-citanya berda’wah dan mengajarkan pelajar-pelajar di pesantren yang pada waktu itu boleh dikatakan masih bersifat sederhana sekali. Kemudian da’wah tersebut juga di lanjutkan oleh menantunya, yang bernama K.H.Jaya ( th.1860 – 1882 M ). Setelah K.H.Jaya meninggal di antara ulama-ulama yang terdapat di Cibeber pada waktu itu yang dapat dikatakan banyak pengaruhnya adalah K.H.Abdussalam ( th 1882 – 1915 M ), putera K.H.Jaya. Dan pada sekitar tahun 1915 itu beliau pergi ke Mekkah (Saudi Arabia) untuk menunaikan ibadah haji, tapi kemudian beliau bermukim di sana dan menjadi pendidik di Mekkah sampai dengan meninggalnya. Setelah itu, dilanjutkan oleh KH. Abdul lathief.
- Pesantren dan Madrasah di bawah kepemimpinan KH. Abdul Lathief
Sebagaimana kepemimpinan pesantren pada umumnya, maka kepemimpinan pesantren dan madrasah di Cibeber secara hirarkis dilanjutkan oleh anak keturunan dan kelaurganya. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa setelah KH. Ali Jaya meninggal, maka penerus selanjutnya adalah K.H.Abdullatif (putera K.H.Ali dari isteri Ny.H.Usmah binti K.H.Jaya yang merupakan keturunan K.H.Madhan).
Pada masa kepemimpinannya, KH. Abdul Lathief nampaknya memiliki obsesi tersendiri sehingga beliau tidak hanya melaksanakan pembinaan pendidikan keagamaan di masjid, majlis ta’lim atau pesantren saja, melainkan beliau juga mendirikan madrasah dan pesantren di Cibeber. Ia mendirikan madrasah bersama kawan-kawannya yang mendapat dukungan masyarakat setempat pada tahun 1924 dengan enam lokal dan dengan jumlah tenaga pendidik sebanyak enam orang. Madrasah tersebut diberi nama ”Tarbiyatul Athfal”[3]. Sebelum mendirikan madrasah tersebut, yaitu sejak tahun 1918 M sampai dengan tahun 1924 M, beliau mengabdikan dirinya untuk melaksanakan pengajian-pengajian di masyarakat Cibeber dan para santrinya. Tempat pengajiannya adalah di majlis ta’lim atau serambi mesjid[4].
Pesantren Cibeber pertama kali didirikan adalah di Cibeber Desa, yaitu tepatnya di Gang 1 (sekarang disebut Gang Asem Reges) samping jalan Raya. Bangunan Pesantren tersebut sekarang sudah tidak ada. Adapun lahan bekas pesantrennya sekarang ditempati bangunan rumah anak dari KH. A. Najiullah (Furqon). Sedangkan untuk bangunan madrasah yang pertama adalah di Cibeber desa juga, yaitu di gang VIII. Bangunan tersebut sekarang juga sudah tidak ada. Akan tetapi bekas bangunannya adalah yang sekarang ditempati rumah (Alm) pak Sulaeman[5].
Dalam perkembangan selanjutnya, karena tanah yang dibuat madrasah itu kurang luas dan kurang strategis pemandangannya untuk suatu bangunan madrasah yang agak besar, maka beliau (KH. Abdul lathif) bermusyawarah dengan tokoh-tokoh masyarakat dan para ulama setempat untuk mendirikan madrasah yang agak besar dan tanahnya lebih luas. Dan akhirnya pada tahun 1931 madrasah tersebut diperluas dan diberi nama ”Perguruan Islam Al-Djauharotunnaqiyyah” dengan memiliki ruangan sebanyak 10 (sepuluh) lokal. Tanah bangunan gedung tersebut sebagian besar adalah wakaf dari mertuanya (Haji Anhar) 4. Dan sekarang madrasah tersebut, bangunannya telah mengalami penambahan untuk ruangan kelasnya menjadi 17 lokal[6]. Selain madrasah, dibangun pula asrama santri (pesantren) di belakang madrasah.
Madrasah baru itu langsung dibawah asuhan K.H. Abdullatif sendiri, dan dibantu oleh rekan-rekannya, terutama sekali saudara menantunya K.H.Suchari. Makna ” Al-Jauharotunnaqiyyah ” adalah ”permata/intan yang bersih”[7].* Di antara rekan-rekan KH. Abdul Latif tersebut yaitu K.H.Suchari pada tahun 1952 memisahkan diri, dan mendirikan madrasah di desa Sukmajaya. Dan oleh karena itu, dalam menjalankan kepemimpinan selanjutnya, K.H.Abdullatif dibantu oleh puteranya yaitu K.H.Abdul Muhaimin, yang belajar di Mekkah selama kurang lebih 7 (tujuh) tahun (dari tahun 1928 sampai tahun 1935), dan juga putera-putera lainnya, seperti K.H.Ahmad Shafiullah dan K.H.Ahamd Najiullah.
Madrasah dan pesantren Cibeber mencapai masa jayanya sekitar tahun 1953 sampai tahun 1960, yaitu dikala K.H.Abdullatif, K.H.Suchari dan K.H.Astahari masih hidup. Tercatat jumlah pelajar madrasah dan pesantren seluruhnya kurang lebih 1700 siswa – siswi tiap-tiap tahun. Pelajar-pelajar atau santri-santri tersebut disamping dari daerah setempat dan sekitarnya, juga pelajar-pelajar yang datang dari daerah Lampung, Palembang, Cirebon, Jakarta, Purwakarta, Bogor, Tegal, Pekalongan, Semarang, dan daerah sekitarnya.5
Adapun sebab– sebab yang menjadi dasar atau alasan berdirinya madrasah Al-Djauharotunnaqiyyah di Cibeber adalah sebagai berikut:
1. Kurangnya sekolah/madrasah. Pada waktu itu sekolah /madrasah masih kurang, padahal sangat diperlukan sekali untuk menampung anak-anak yang beragama Islam dalam mempelajari ilmu keislaman.
2. Sukarnya masuk sekolah. Hanya golongan tingkat atas sajalah yang bisa melanjutkan sekolah. Inipun dipilih dan diteliti oleh pemerintah Belanda, mana yang nantinya bisa menjadi alat atau membantu mereka. Hal ini menyebabkan kebencian bangsa Indonesia dan kefanatikannya, sehingga banyak yang berfikir, lebih baik menempatkan anak-anaknya di pesantren atau madrasah.
3. Tidak mampu menyekolahkan anak. Sebagai penduduk yang masih dalam jajahan Belanda, maka masyarakat susah menyekolahkan anaknya, di samping mereka berpendapat bahwa sekolah yang didirikan Belanda memisahkan antara Agama dan pengetahuan umum. Juga akibat dari tindakan penjajah yang demikian bangsa kita menjadi fanatiknya sehingga menyebabkan mereka tidak senang melihat anak-anaknya menjadi menak ( intelek ) tetapi buta akan agama.
4. Madrasah sebagai media da’wah Islam. Madrasah didirikan sebagai media da’wah Islam, merupakan penampungan dari pelajar-pelajar muslim. Karena pada waktu itu telah berdirinya sekolah-sekolah Belanda yang sudah teratur administrasinya, yaitu (1) adanya pembayaran sekolah, (2) ditariknya pembayaran sekolah tiap bulan, (3) Rencana pelajaran sudah teratur, dan (4) daftar pelajaran sudah ada.
5. Adanya tenaga guru/pendidik baik yang berasal dari cibeber atau dari luar.
6. Adanya murid/santri dari masyarakat sekitar maupun dari tempat yang jauh.
7. Milieu yang memungkinkan.
8. Tempat belajar tersedia.[8]
KH. Abdul Lathief bin KH. Ali meninggal pada hari Selasa, tanggal 21 April 1960 M, jam 00.50 bertepatan dengan 23 Syawal 1379 H , dan dimakamkan pada hari Rabu di kompleks Madrasah Al-Djauharotunnaqiyah Cibeber. Sepeninggalnya, beliau telah mempunyai keturunan sebanyak 8 orang hasil pernikahannya dengan Hj. Salkhah (istri pertama) binti H. Sapta pada tahun 1912 M, dan dengan Hj. Rahmah (istri kedua), yaitu:
1. Hasil Perkawinan dengan Hj. Siti Salhah memiliki 4 (empat) orang putra/i sebagai berikut[9]:
1) KH. Abdul Muhaimin
2) Ny. Hj. Aisyah
3) KH. Ahmad Shofiullah
4) Ny. Hj. Marhumah
2. Hasil Perkawinan dengan Hj. Rohmah memiliki 4 (empat) orang putra/i sebagai berikut, [10]:
1) Ny. Hj. Ma’zah
2) Ny. Hj. Madichah
3) KH. Ahchmad Najiulllah
4) H. Ridwan (bermukim di Mekkah)[11]
Silsilah KH. Abdul Lathief tersebut, dapat digambarkan dalam bentuk bagan sebagai berikut:
1) 
H. Fuad H. Akrom
![]() | |||||||
![]() | |||||||
![]() | |||||||
Gambar 1: Bagan Silsilah KH. Abdul Lathief
Putra-putri dari masing-masing keturunan anak KH Abdul Lathif tersebut dapat diuraikan lebih rinci sebagai berikut[12]:
1. KH. Abdul Lahif dengan istri yang pertama (Hj. Siti Salhah) memiliki 4 (empat) orang anak. yaitu (1) KH. Muhaimin, (2) Hj. Aisyah, (3) KH. A. Shofiullah, dan (4) Hj. Marhumah. Dan masing-masing keempat putranya ini memiliki anak, sebagai berikut:
(1) KH. Muhaimin memiliki 2 (dua) orang putra, yaitu KH. Syafiq dan Hj. Maemanah. Dan keturunan dari KH. Syafiq ini diantaranya adalah H. Akrom.
(2) Hj. Siti Aisyah memiliki 2 (dua) orang putra, yaitu H. Luthfi, dan Hj. Nursarah,
(3) KH. A. Shofiullah memiliki 11 (sebelas) orang putra, yaitu H. Abd. Wahid (Alm), St. Zubaedah, Hj. Salmah, Habibah, Hj. Muslihah, Abd. Rozak, Shobriyah, Ucu Suadah, Iin, Mumu dan Imat. dan
(4) Hj. Marhumah memiliki 6 (enam) orang putra, yaitu Hj. Hamdah, Hj. Muniroh (Alm), H. Mamat Afifudin, Hj. Fakhiroh, Hj. Humaemah, dan ’Alawi;
2. KH. Abdul Lathif dengan istri yang kedua (Hj. Siti Rahmah) memiliki 4 (empat) orang anak juga, yaitu (1) Hj. Siti Ma’zah, (2) Hj. Madihah, (3) KH. A. Najiullah, dan (4) H. Ridwan. Putra puteri dari masing-masing 4 orang ini adalah sebagai berikut:
(1) Hj. Siti Ma’zah hasil perkawinannya dengan H. Syihabuddin Ma’un memiliki satu orang putra yaitu H. A. Fuad Syihabuddin Ma’mun,
(2) Hj. Madihah memiliki 2 (dua) orang putri yaitu Hj. Mawadah dan Hj. Mamduhah. Hj. Mamduhah ini kemudian menikah dengan Prof. Dr.H.M. Yunus Gozali.
(3) KH. A. Najiullah memiliki 11 (sebelas) orang putra, yaitu: Nadiful Mustofa (Alm), Muhlas, H. Abd. Rasyid, Hj. Maryamah, Mahsus, Mahrus, Ghufron, Furqon, Imron, Rahmat, dan H. Lukmanul Hakim.
Dari silisilah di atas, dapat kita lihat bahwa keturunan KH. Abdul Lathief dengan Hj. Siti Salhah inilah yang kemudian cenderung mewarisi pada kepemimpinan pesantren dan pengajian-pengajian di majlis ta’lim. Sementara keturunan dengan Hj. Rahmah (istri kedua) yang mewarisi kepemimpinan Madrasah. Hal ini menurut H.Hilmi bisa disebabkan oleh karena tanah wakaf yang digunakan untuk madrasah tersebut adalah dari orang tua Hj. Rahmah, yaitu H. Anhar[13]., sehingga kemungkinan besar menjadikan anak keturunannya memiliki ”angleh” dan tanggung jawab moral ke arah tersebut. Walaupun pembagian tersebut tidak ada aturan atau ketentuan yang jelas tapi kenyataannya memang demikian.
Namun alasan tersebut, nampkanya dapat dikatakan mendekati kebenaran. Dari fakta yang ada, kepemimpinan dalam PB Madrasah Al-Djauharotunnaqiyyah hampir secara turun temurun diwarisi oleh keluarga dari keturunan Hj. Siti Rohmah. Pola pewarisan tersebut dapatlah dilihat pada bagan sebagai berikut[14]:
![]() |
Gambar 2 : Struktur Kepemimpinan Madrasah dan Pesantren Al-Djauharotunnaqiyyah
Semasa hidupnya, KH Abdul Lathief telah banyak menerjemahkan dan mengarang kitab ke dalam bahasa jawa Banten/bahasa sunda. Beberapa kitab atau buku tersebut yang sampai saat ini masih berada di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Taudikhul Ahkam ( توضيح الأحكام )
2. Irsyadul Anaam (إرشا د العبا د)
3. Bayanul Arkan (بيان الأركان)
4. Adabul mar’ah (اداب المرأه)
5. Tauqil Tauhid (توقيل توحيد)
6. Kifayatus Shibyan (كفاية الصبيان)
3. Matan Sanusiyah (متن اسنوسيه)
4. Mu’awanatul Ikhwan (معاونة الأخوان)
5. Sirat Sayyidil Mursalin (سيرة سيد المرسلين)
6. Munabbihat (منبهات)
7. Manaqib Syekh Abdul Qodir Jailani (مناقب شيخ عبد القادر الجيلاني)
8. Sejarah Banten (شجره بنتن)
9. Tajwid jawa’(Bahasa Jawa Banten) تجويد جوي)
10. Terjemah Mawa’izul Ushfuriyah (ترجمه مواعظ العصفوريه)
11. Tafsir Juz ’amma (تفسير جز عم)
12. Tafsir Suat Yasin (تفسير سورة يس)
13. Tafsir Suraty Alif lam Tanzil (تفسير سورة الم تنزيل)
14. Tafsir Surat Al-Baqoroh (تفسير سورة البقره)
15. Bayanul Masail (بيان المسائل)
Buku-buku tersebut dicetak melalui mesin cetak huruf arab yang dibelinya dengan nama percetakannya ”Mathaba’atul Anwar”. Namun mesin tersebut sekarang sudah tidak ada lagi.
- Pesantren dan Madrasah di bawah kepemimpinan K.H.A. Najiullah Lathifi (th.1960 M – 2000 ) .
Setelah KH.Abdullatif meninggal dunia, maka pesantren dan madrasah al-Djauharotunnaqiyyah dilanjutkan oleh putra-putranya. Untuk Pesantren dan majlis taklim dilanjutkan oleh putranya, yaitu KH. Abdul Muhaimin sejak tanggal 23 April 1960 M sampai dengan tanggal 12 November 1988 M. Dan setelah KH. Abdul Muhaimin meninggal, pesantren dan majlis Ta’lim dilanjutkan lagi oleh cucunya yaitu KH. Syafiq Lathify (dari 1998 s/ 2007), dan setalah meninggal dilanjutkan lagi oleh cicitnya, yaitu H. Akrom Lathify (dari tahun 2007 sampai dengan sekarang). Sementara untuk madrasah al-Djauharotunnaqiyyah dilanjutkan oleh KH.A.Najiullah Lathiefi sejak tanggal 10 Agustus 1960 M sampai dengan tanggal 12 Februari 1999 M.
Pada masa kepemimpinan KH. A. Najiullah ini ada beberapa perubahan, terutama dalam hal kurikulum yang digunakan dalam pembelajaran di madrasah. yaitu kurikulum atau mata pelajaran yang diajarkan di madrasah tingkat MTs sudah mengadopsi kurikulum Departemen Agama sejak tahun 1975 dan tingkat MA sejak tahun 1979, sehingga ada beberapa mata pelajaran umum yang diajarkan, seperti Bahasa Indonesia, bahasa Inggris, Matematika, Fisika, SKI, Goegrafi dan sebagainya.
Namun demikian, walaupun ada beberapa mata pelajaran umum yang masuk dalam kurikulum, namun respon guru dan siswa masih belum terlhat antusias. Karena materi-materi tersebut hanya untuk memenuhi kurikulum Departemen Agama dan kebutuhan siswa yang akan mengikuti ujian negara saja. Sehingga proses pembelajarannya belum maksimal.
- Masa Kepemimpinan KH. Tb. Fuad Syihabuddin
Sebagaimana tradisi kepemimpinan pada Yayasan Al-Djauharotunnaqiyyah, bahwa pucuk kepemimpinan Pengurus Besar adalah diambil dari garis keturunan keluarga. Karena putra KH. Abdul Latief dari garis keturunan dengan Hj. Siti Rahmah yang cenderung mewarisi kepemimpinan madrasah dari pihak laki-laki sudah tidak ada, maka kepemimpinan selanjutnya diteruskan oleh cucunya, yaitu KH. Tb Fuad Syihabuddin yang merupakan putra tunggal dari Hj. Ma’zah. (dari tanggal 19 Maret 1999 sampai dengan 10 Mei 2007 M).
Setelah KH.Tb. Fuad Syihabuddin meninggal maka kepemimpinan PB Al-Djauharotunnaqiyyah dilanjutkan oleh H. Rasyid Khan sampai sekarang.
- Masa Kepemimpinan H. Rasyid Khan
H. Rasyid Khan merupakan putra dari KH. Ahmad Najiullah Lathiefi. H.Abdul Rasyid Khan memimpin yayasan (Pengurus Besar) al-Djauharotunnaqiyyah sejak tanggal 24 Juni 2007 sampai dengan sekarang[16].
Sosok kepemimpinan PB pada periode ini mungkin agak berbeda dengan periode sebelumnya. Hal ini dimungkinkan oleh latar belakang H. Rasyid sebagai pengusaha dan karyawan di PT. Krakatau Steel. Walaupun pada saat penelitian ini dilakukan menurut HM. Yunus Gozali belum ada perubahan yang berarti baik dari sistem kepemimpinan maupun sistem pendidikan di madrasah al-Djauharotunnaqiyyah.
Sebagai bagian yang tak terpisahkan dari sejarah pesantren di Cibeber. Bahwa dalam perkembangannya di Cibeber tidak hanya ada satu pesantren saja (yaitu pesantren Bany Lathief) melainkan terdapat beberapa pesantren lain yang muncul seperti di Cibeber desa yaitu pesantren yang diasuh oleh KH. Sofwan, pesantren KH. Hasyim, pesantren KH. Humaedi, pesantren H. Fuad Syihabuddin, pesantren KH. Astahari, dan pesantren KH. Baghowi. Dan yang di Cipucang, selain pesantren Bany Latief, khusus untuk perempuan ada pesantren yang di bawah asuhan Hj. Maemanah dan Hj. Mamduhah (KH. Yunus Gozali). Namun pesantren-pesantren tersebut, sekarang sudah mulai mengalami kehilangan santrinya bahkan ada yang sudah tutup, seperti pesantrennya KH. Humaedi, dan KH. Hasyim, sementara yang lainnya tinggal beberapa santri saja, seperti halnya pula pada pesantren puteri di Cipucang. Bahkan pesantren Bany Lathief pun sekarang mengalami penurunan jumlah santri yang luar biasa. Setelah beberapa pesantren-pesantren tersebut mengalami penurunan jumlah santri, maka di Cibeber desa muncul pesantren baru yaitu pesantren khusus perempuan di bawah asuhan KH. Mursi Qudsi, dan ada pula walaupun jumlahnya sedikit yaitu pesantren di bawah asuhan H. Habibi.
Seiring dengan menurunnya jumlah santri pada beberapa pesantren tersebut (baik di Cibeber desa maupun Cipucang), maka berdampak pula pada penurunan jumlah siswa pada madrasah al-Djauharotunnaqiyyah, khususnya siswa yang tinggal di pesantren dan warga dari desa Cibeber sendiri. Sebagai respon terhadap fenomena perkembangan pesantren dan madrasah yang demikian, dan kondisi masyarakat Cibeber- Cilegon dan sekitarnya yang telah mengalami banyak perubahan baik secara fisik maupun sosio-kultur, maka H.Rasyid mendirikan suatu lembaga pendidikan sendiri yang berbentuk SMP Islam Terpadu yang bertempat di Kp. Sambirata-Cibeber.
B. Struktur Organisasi Pesantren dan Madrasah
Sejak madrasah ini diberi nama ”Al-Jauharotunnaqiyyah”, madrasah ini mempunyai beberapa cabang yang terdapat di Kecamatan Cilegon (di desa Bulakan, Karang Asem, Bendungan dan Gedong Dalem), Kecamatan Bojonegara (di desa Ragas, Solor dan Merapit ), Kecamatan Pulo Merak ( di desa Daliran, Tegal Bunder ), Kecamatan Waringin Kurung (di Gudang Batu dan Makam Bata), Kecamatan Kramat Watu (di desa Toyomerto, Serdang) Kecamatan Serang (di desa Sumur Pecung dan Sempu) dan di tempat-tempat lainnya di luar kabupaten Serang. Madrasah-madrasah tersebut berinduk/berpusat ke Cibeber dan kepengurusan masih tetap di pegang oleh KH.Abdullatif.13 Sementara pengurus yang lainnya dapatlah dikatakan sebagai pembantu beliau.
Dengan adanya cabang-cabang madrasah yang terdapat di luar Cibeber, maka madrasah Al-Jauharotunnaqiyyah sudah merupakan tempat pendidikan untuk masyarakat umum, hanya dalam soal kepengurusannya masih tetap dimiliki oleh perorangan yaitu KH.Abdullatif. Setelah beliau (KH. Abdul lathief) meninggal dunia pada tahun 1960, maka pengurus besar dipegang oleh puteranya yaitu KH. Ahmad Najiullah Lathifi.14
Yayasan Al-Djauharotunnaqiyyah ini telah memiliki cabang sebanyak 90 buah pada tahun 1988 yang berada di wilayah Jawa Bagian Barat sampai ke Lampung dan Sumatera Selatan[17], dan sekarang sudah mencapai 114 cabang. Ketika penelitian ini dilakukan, cabang madrasah yang ke 114 yaitu MI di Desa Toyomerto, Kecamatan Kramatwatu. Dan dari sejumlah cabang tersebut, untuk tingkat madrasah Tsanawiyah baru memiliki 8 cabang. Dan cabang yang ke 8 tersebut adalah MTs Al-Djauharotunnaqiyyah di desa Pegadingan, Kecamatan Kramat watu, Kabupaten Serang, yang berdiri pada tahun 2008[18].
Adapun struktur kepengurusan PB Al-Djauharotunnaqiyyah yang sekarang adalah sebagai berikut[19]:
H.Gozali![]() | |||
(Gambar 3: Struktur Pengurus PB Al-Djauharotunnaqiyyah Diadaptasi dari Papan Monograf)
Sebagai upaya pengembangan yayasan baik dalam bentuk usaha maupun kelembagaan pesantren, maka didirikanlah Pusat Informasi Pesantren (PIP) yang menangani bidang kepesantrenan dan kegiatan-kegiatan pengembangan pesantren. Sementara untuk bidang usahanya adalah dibentuk Koperasi Pesantren.
[1] HM. Yunus Gozali, Madrasah Al-Djauharotunnaqiyyah Cibeber sebagai Media Dakwah”, Skripsi (Cibeber, 1980) hal: 15. H.M. Yunus Gozali merupakan cucu menantu dari KH. Abdul Latif, suami dari Hj. Mamduhah yang merupakan putrid dari Hj. Madihah. Dan HM. Yunus juga sebagai Kepala Madrasah Aliyah Al-Djauharotunnaqiyyah.
[2] Anonimous, Mengenal Pondok Pesantren Madrasah Al-Djauharotunnaqiyyah, Cibeber, Cilegon, tt, hal:1
[6] Madrasah Al-Djauharotunnaqiyyah berada di kampung Cipucang samping lintasan jalan raya Cilegon-Serang) dengan alamat: Jl. Raya Cilegon, KM.2. Cibeber, telp (0254) 382454, 391634, fax (0254) 393642
*Sebagai catatan bahwa perbedaan penulisan nama Yunus Gozali dengan H.M. Yunus Gozali adalah semata-mata untuk dapat membedakan sumber rujukan yang digunakan, karena orangnya satu. Yunus Gozali adalah salah satu orang yang banyak mendokumentasikan tentang sejarah Cibeber. Yaitu satu tulisan dalam bentuk skripsi S1 untuk mencapai gelar doctoral di UNIS Tangerang, dan yang satunya lagi dalam tulisan Lintasan Sejarah KH. Abdul Lathief.
[9] Berdasarkan catatatn Almanak Cibeber tahun 2009, bahwa Haol Hj. Salhah adalah pada tanggal 8 Shofar, Haol KH. Muhaimin pada tanggal 2 Robiul Tsani (wafat 2 R.Tsani 1409H/12 Nov 1988 M), Haol Hj. Aisyah tanggal 12 Shofar (wafat 12 Shofar 1412H/22 Agustus 1991 M), dan Haol KH. A. Shofiullah pada tanggal 27 Robiul Awal (wafat 27 Robiul Awal 1403 H/11 Januari 1983 M).
[11] Yunus Gozali, Op.cit, hh:10-11 dan Hasil Wawancara dengan H. Hilmi (25 Januari 2009, pkl 09.30)
[12] Hasil wawancara dengan Hj. Hamdah. Hj Hamdah merupakan cucu KH. Abdul Lathif dari istrinya yang pertama, dan anak dari Hj. Marhumah dengan H. Abdul Hamid.
[13] Hasil wawancar dengan H. Hilmi. H. Hilmi adalah salah satu pengurus di yayasan Al-Djauharotunnaqiyyah. Ia sekarang dipercaya sebagai kepala MTs. Al-Djauharotunnaqiyyah, dan terkadang berperan menjalankan tugas-tugas sekretaris Yayasan. Disamping itu, ia juga merupakan menantu dari H.Fuad Syihabuddin, namun setelah istrinya meninggal kemudian menikah lagi dengan anak dari saudara H. Fuad, yaitu dengan anaknya ibu Hj. Aisyah.
[17] Data ini diambil dari Pusat Informasi Pesantren (PIP) Al-Djauharotunnaqiyyah tentang Selayang Pandang Pesantren Al-Djauharotunnaqiyyah dan Laporan PIP tanggal 31 Maret 1988. PIP merupakan suatu lembaga swadaya masyarakat yang berada di bawah pesantren dan yayasan Al-Djauharotunnaqiyyah dengan tujuan untuk memberikan informasi seputar kepesantrenan. PIP didirikan pada tanggal 1 Maret 1988 dan diresmikan pada tanggal 31 Maret 1988 oleh Menteri Peranan Wanita Ibu Hj. Sulasikin Mupratomo, SH. ketika pencanangan program Posyandu Pesantren Tingkat Nasional di desa Cibeber, Kotip Cilegon. Adapun struktur dari PIP sendiri adalah : Ketua M. Hilmi Abdul Majid, Sekretaris: A. Ghozali Asyiq dan Bendahara Moh. Ali Musa.
[19] Peneliti tidak mencantumkan struktur organisasi PB yang lama, melainkan hanya menuliskan struktur kepengusrusan PB Al-Djauharotunnaqiyyah yang baru. Karena pada prinsipnya sama, hanya besa nama orang saja.





mohon setiap tulisan sebelum di posting. diteliti keaslian sejarahnya dan nama-nama yang tertera dalam sejarah tersebut. karena hal itu dapat menimbulkan kesan yang mengada-ada terlebih reverensinya kurang kuat. terima kasih (cucu KH. Abdul Latief)
BalasHapusiki sape sing nulis..? sape sing gawe kien..?
BalasHapusbagus kien ,, di kembangaken mah kih ,, dadi luas ,, :D
BalasHapusdi dukung lah,, :D
tulisan yang berdasarkan sumber (referensi) berarti dapat dipertanggung jawabkan keilmiahnnya. jika ada yang kurang tepat bisa ditriangulasikan sesuai sumber tersebut. semua informasi yang ditulis berdasarkan sumber tertulis maupun lisan....
BalasHapusKH.ALI bukan meninggal di Mekah.. belaiu meninggal di Ambon karena di buang kompeni... aduh..acak acakan iki penulise iki.. sepak gantung kudune...
BalasHapusLamun boten salah mah,Kyai Sohari pesantrene se gang sereng sate mang Fe'i mak
BalasHapus